MediAmpera.COM - Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal (PNFI) mendorong keterlibatan komunitas untuk membantu menjangkau, mendata, hingga mengembalikan anak-anak ke layanan pendidikan sesuai tingkatan.
Sejalan
dengan program tersebut, Pemerintah Kabupaten Batang Hari dalam hal ini Dinas
Pendidikan, terus memperkuat kebijakan penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS), melalui
pendekatan yang lebih humanis dekat dengan masyarakat.
Guna
mendukung kebijakan penanganan ATS itu, mulai tahun 2026 Diknas Batang Hari
melepas ribuan Relawan Pendidikan dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan
Kabupaten Batang Hari, Zulfadli, Rabu 29 Juli 2026.
Acara
pelepasan turut dihadiri seluruh Relawan Pendidikan dari unsur PKBM dan SKB
Sekabupaten Batang Hari, termasuk Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Desa dan
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Batang Hari.
Zulfadli menegaskan,
Relawan Pendidikan memiliki peran penting sebagai garda terdepan, dalam
memastikan anak-anak yang belum terjangkau layanan pendidikan dapat kembali
memperoleh hak pendidikan.
Menurut
Zulfadli para relawan dari komunitas
PKBM dan SKB hadir, sebagai bagian dari upaya penjangkauan berbasis komunitas.
Relawan nanti tidak hanya melakukan pendataan, tetapi juga memastikan anak-anak
yang belum terjangkau dapat kembali terhubung dengan layanan pendidikan yang
sesuai jenjang pendidikannya,
Saat ini,
kata Zulfadli, di Kabupatenn Batang Hari tercatat lebih kurang 6000 ATS dari
jenjang SD, SMP dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas atau SLTA. Sedangkan untuk Relawan
dari komunitas PKBM dan SKB berjumlah ada 119 orang dan ini merupakan
perwakilan dari masing-masing PKBM dalam Kabupaten Batang Hari.
Kadis
Pendidikan Batang Hari menambahkan, tugas relawan ATS ini merupakan tugas mulia
dalam memanusiakan manusia. Mereka dilindungi oleh undang-undang. karena itu
bekerjalah sesuai dengan undang-undang.
“Relawan
sebagai garda terdepan dalam penguatan pendidikan terhadap ATS. Pendidikan dan
Agama merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan,” tegas Zulfadli.
Selain
melakukan pendataan, mengidentifikasi penyebab anak tidak sekolah secara rinci,
melakukan pemetaan kebutuhan belajar anak, dan terakhir memperkuat advokasi
masyarakat tentang pentingnya pendidikan bagi setiap anak.
“Diharapankan
para relawan dapat membangun komunikasi yang baik dengan keluarga dan lingkungan
sekitar anak. Bahkan keberhasilan program ini, tak hanya diukur dari jumlah
anak yang terdata, tapi dari berapa banyak anak yang benar-benar kembali
memperoleh haknya, untuk belajar dan memiliki harapan masa depan,” pungkas
Zulfadli.
Kabid Dikdas,
Irsyil Syarif, menjelaskan, program relawan pendidikan ini sejalan dengan
amanat Perpres Nomor 3 Tahun 2026, tentang Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak
Sekolah yang menempatkan penanganan ATS sebagai prioritas nasional.
Maka data
yang disampaikan ke relawan baru merupakan data awal dan perlu diverifikasi di
lapangan.
“Kami
berharap melalui kerja para Relawan Pendidikan, anak-anak yang belum terjangkau
layanan pendidikan, dapat segera terdata dan dikembalikan ke satuan pendidikan,
baik formal maupun nonformal,” ungkap Irsyil.
Terkait
dengan kondisi geografis wilayah dari satu dengan lainnya berbeda dan memiliki
tantangan tersendiri, bisa saja harus menyeberangi Sungai. lalu naik kendaraan dan
naik kendaraan air Kembali.
“Karena itu
ketangguhan dan kesungguhan para relawan sangat diharapkan. Jangan mudah menyerah,”
harap Irsyil.
Dijelaskan Irsyil,
bahwa program Relawan Pendidikan sangat membantu pemerintah daerah, memperluas jangkauan
layanan pendidikan hingga ke pelosok wilayah desa.
“Kami atas
nama Pemerintah Kabupaten Batang Hari melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Kabupaten Batang Hari, mengucapkan terima kasih dan dukungan terhadap Program
Relawan ini.***
Reporter: MR
| Editor : MAS

1 Komentar
Mantap
BalasHapus