Oleh : M Rasyid*
PROGRAM Makan
Bergizi Yang digagas Presiden Probowo-Gibran, Di Kabupaten Batang Hari belum
sepenuhnya berjalan secara merata. Sampai saat ini baru beberapa dapur yang sudah
berjalan. Kota Muara Bulian baru berjalan dua dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Satu dapur melayani lebih kurang 2.500 dari 3.500 ompreng untuk 12 sekolah.
Sedangkan untuk
kecamatan lain selain Muara Bulian belum ada informasinya, berapa yang telah
berjalan program makan bergisi dimaksud. Masyarakat bertanya-tanya kenapa belum
semua sekolah mendapat jatah MBG?
Sementara itu di
lapangan (Sekolah-red) yang menerima manfaat pada umumnya menyambut baik
program MBG. Pemantauan di lapangan dari beberapa hari, umumnya mengeluhkan
masalah menu yang disajikan, baru sebatas daging ayam, telur dengan tambahan
sayur seadanya. Sejauh ini belum ada ditemukan pihak dapur MBG menyajikan menu
ikan sebagai lauk utamanya.
Saat dikonfermasi ke
petugas MBG, bahwa pengakuan mereka ikan sulit diperoleh dengan dana perporsi
omprengan yang dianggarakan tidak mencukupi. Sebab, persyaratan ikan yang
memenuhi syarat gizi yang dianjurkan cukup mahal dan sulit diperoleh.
Sementara ikan
dengan omega 3 merupakan gizi yang sangat dibutuhkan untuk kecerdasan. Pemenuhan
menu ikan untuk MBG dengan harga sesuai, merupakan tantangan yang dihadapi para
pengelola dapur MBG. Badan gizi daerah seharusnya cepat tanggap untuk mengambil
sikap dan solusi terhadap kebutuhan ikan untuk MBG, agar program peningkatan
kualitas generasi bangsa terpenuhi.
Ikan yang mengandung omega-3 yang cukup tinggi menurut para pakar gizi, terutama
terdapat pada ikan air laut, seperti
pada salmon dan kakap merah. Sementara ikan air tawar dengan kandungan omega-3
yang tergolong tinggi terdapat pada ikan lele dan ikan gabus.
Konsumsi ikan ini sangat dianjurkan, seperti di Negara Jepang minimal
satu porsi ikan atau satu ons sehari dikombinasi dengan sumber protein lainnya.
Artinya, kebutuhan ikan untuk protein kecerdasan setahun sebanyak 36 Kg. Sedang
masyarakat kita mungkin lebih dari 36 Kg setahun. Tapi tidak setiap hari, pada
saat banjir atau musim ikan mungkin sehari bisa satu Kg perorang. Sementara
pendapat para pakar komsumsi ikan untuk kecerdasan minimal sekali dalam
seminggu mengkonsumsi ikan.
Terhadap adanya program MBG ini beragam pandangan dan pendapat masyarakat, semisal bagi orang tua yang anaknya penerima manfaat pun memiliki beragam pandangan. Ada yang memandang program MBG itu tidak ada gunanya, bahkan meminta dana yang dialokasikan per siswa itu, dicairkan saja berupa uang tunai dan diberikan kepada keluarga yang akan memasaknya.
Masyarakat yang
memyambut program MBG juga tidak kalah banyak. Namun masalah akan gizi
merupakan yang dipertanyakan, kalau hanya ayam ras apakah cukup untuk memenuhi
gizi?. Sayuran yang disajikan dalam pantauan berupa kacang buncis, wortel,
kenapa tidak dibeli sayuran yang ada di lokal? Sehingga program tersebut berdampak
terhadap ekonomi masyarakat lokal yaitu petani.
Masalah ikan
solusinya pemenuhan bisa saja pengelola dapur bekerjasama dengan petani yang
mata pencahariannya mencari ikan. Berdasarkan pantauan di pasar kalangan di
Muara Bulian, banyak yang menjual ikan gabus yang beratnya rata-rata ukuran
satu kilogram.
Program MBG akankah
dapat meningkatkan ekonomi rakyat melalui usaha mikro kecil dan menengah (UMKM)? Seharusnya program tersebut berdampak
langsung dalam menciptakan lapangan kerja dan ekonomi masyarakat. Namun
kenyataannya jauh dari harapan hanya masyarakat tertentu saja yang dapat menerima
dampak peningkatan ekonomi.
Ada beberapa dapur MBG
dikelola oleh institusi atau kelompok tertentu yang notabene usahanya tidak bergerak
dibidang jasa makanan atau catering siap disajikan. Bahkan ada juga dapur MBG yang
dikelola orang yang punya pengaruh kekuasaan dan kedekatan dengan pejabat.
Bisakah ini disebut dengan perilaku yang mementingkan keuntungan pribadi secara
berlebihan (serakahnomic?). Walaupun tenaga kerjanya masyarakat biasa.
Diharapkan para
pemangku kewenangan dan kepentingan dapat menjadikan paparan ini sebagai bahan
pertimbangan, untuk kebijakan dapur-dapur yang diberi kesempatan mengelola MBG,
kini dan masa yang akan datang.-
Penulis : *Guru tinggal di Muara Bulian.

1 Komentar
Yang penting kenyang pa e
BalasHapus