Breaking News

Religiusitas Mahasiswa di Era Digital

 

 Oleh : Dr. Adi Iqbal, S.Sos.I.,M.Ud

Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara masyarakat memahami dan menjalankan ajaran agama. Dunia kampus sebagai ruang intelektual generasi muda juga mengalami perubahan besar dalam pola religiusitas mahasiswa.

Jika dahulu dakwah lebih banyak dilakukan melalui mimbar masjid, kajian tatap muka, atau organisasi keagamaan kampus, kini dakwah hadir secara luas melalui media sosial, podcast, YouTube, TikTok, hingga berbagai platform digital lainnya.

Fenomena ini menunjukkan, bahwa agama telah memasuki ruang digital dan menjadi bagian dari budaya komunikasi generasi muda masa kini.

Mahasiswa sebagai bagian dari Generasi Z (GZ), merupakan kelompok yang sangat dekat dengan teknologi dan internet. Kehidupan mereka tidak dapat dipisahkan dari media sosial yang menjadi sarana komunikasi, hiburan, sekaligus sumber informasi.

Dalam konteks ini, dakwah digital muncul sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan zaman. Banyak mahasiswa kini memperoleh pengetahuan agama dari konten-konten pendek di TikTok, ceramah di YouTube, kutipan motivasi islami di Instagram, hingga diskusi keagamaan melalui podcast.

Dakwah digital menjadi lebih mudah diakses, praktis, dan mampu menjangkau mahasiswa kapan saja tanpa batas ruang dan waktu.

Di satu sisi, dakwah digital memberikan dampak positif terhadap perkembangan religiusitas mahasiswa. Kehadiran konten keagamaan yang kreatif dan komunikatif membuat banyak anak muda lebih tertarik mempelajari agama. Bahasa dakwah yang ringan, visual menarik, dan tema yang dekat dengan kehidupan mahasiswa menjadikan pesan-pesan agama terasa lebih relevan dengan realitas sehari-hari.

Tidak sedikit mahasiswa yang mulai memperbaiki ibadah, memperdalam pemahaman agama, hingga aktif dalam komunitas dakwah kampus karena terinspirasi dari media digital. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana efektif dalam membangun kesadaran spiritual generasi muda.

Namun demikian, perkembangan dakwah digital juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Media sosial sering kali menjadi ruang bebas tanpa filter yang jelas terhadap kualitas informasi keagamaan. Banyak konten dakwah dibuat hanya demi popularitas, jumlah penonton, atau kepentingan tertentu tanpa memperhatikan kedalaman ilmu dan etika komunikasi.

Akibatnya, mahasiswa kadang menerima pemahaman agama yang instan, tekstual, bahkan cenderung provokatif. Tidak jarang media digital justru menjadi ruang penyebaran ujaran kebencian, intoleransi, dan polarisasi atas nama agama. Dalam kondisi seperti ini, religiusitas mahasiswa berisiko berubah menjadi simbolik dan emosional, tanpa diimbangi pemahaman yang kritis dan mendalam.

Selain itu, budaya digital juga memengaruhi cara mahasiswa menampilkan identitas keagamaan mereka. Religiusitas di media sosial terkadang lebih menonjol sebagai pencitraan dibandingkan penghayatan spiritual yang sesungguhnya.

Fenomena “religiusitas visual” terlihat dari kecenderungan sebagian mahasiswa menampilkan simbol-simbol agama demi pengakuan sosial di dunia maya. Agama berpotensi menjadi bagian dari tren digital dan budaya popularitas, apabila tidak diiringi kesadaran moral dan spiritual yang kuat.

Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan literasi digital, agar mampu memilah informasi keagamaan secara bijak dan tidak mudah terpengaruh oleh konten yang menyesatkan.

Di tengah tantangan tersebut, kampus memiliki peran penting dalam membangun religiusitas mahasiswa yang sehat, moderat, dan kritis. Perguruan tinggi tidak cukup hanya memberikan pendidikan akademik, tetapi juga perlu menghadirkan ruang dialog keagamaan yang terbuka, toleran, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Dakwah kampus harus mampu memanfaatkan teknologi digital secara kreatif tanpa kehilangan nilai etika, intelektualitas, dan kemanusiaan. Organisasi mahasiswa, komunitas dakwah, maupun para dosen dapat berkolaborasi menciptakan konten-konten edukatif yang tidak hanya menarik, tetapi juga mencerahkan dan membangun karakter mahasiswa.

Pada akhirnya, dakwah digital merupakan realitas baru yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan mahasiswa modern. Teknologi dapat menjadi sarana yang memperkuat religiusitas, tetapi juga dapat menjadi ancaman, apabila digunakan tanpa tanggung jawab moral dan intelektual.

Oleh sebab itu, mahasiswa sebagai generasi intelektual muda harus mampu menjadikan media digital bukan hanya sebagai ruang hiburan, tetapi juga sebagai sarana membangun spiritualitas, memperluas wawasan keagamaan, dan menyebarkan nilai-nilai kedamaian di tengah masyarakat digital yang terus berkembang.*

Penulis :*Adalah Dosen Sosiologi Agama UIN STS Jambi

0 Komentar

IKLAN

Type and hit Enter to search

Close