Breaking News

MGMP Dibentuk, Wadah Tempat Berbagi Pengalaman dan Menyelesaikan Masalah Dalam Mengajar

Pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMK Batang Hari.|| Foto: Rasyid.

MediAmpera.COM - Kemajuan teknologi komunikasi digital semakian berkembang, bahkan kehadirannya sulit untuk dihindari, bukan tidak mungkin justru peserta didik akan lebih cerdas daripada gurunya.

Pernyataan itu diungkapkan Kepala SMK Negeri II Batang Hari, Maryadi, pada pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMK Batang Hari, Rabu, 13 Mei 2026.

MGMP resmi dibetuk berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi Nomor : 400.3.10/264/SKEP/DISDIK/V/2026. Berbeda MGMP sebelumnya, sekarang berada ditengah kemajuan teknologi, harus berani berinovasi dalam meningkatkan profesi guru.

Maryadi berpesan supaya MGMP yang baru terbentuk ini, benar-benar bekerja dengan sungguh-sungguh dalam rangka peningkatan kompetensi peserta didik kelak.

“Untuk menghadapi semua tantangan itu, maka di wadah MGMP inilah tempat kita berbagi pengalaman dan memecahkan permasalahan dalam mengajar,” tegas Maryadi.

Ditegaskan dan bahkan diakui, Maryadi, bahwa guru dengan segala karakternya dan kebutuhan sering kita temui guru kurang disiplin, stagnan tidak mau berkembang dan mengikuti perkembangan teknologi.

Mirisnya lagi menurut Maryadi, karena desakan ekonomi ada juga seorang guru sibuk mencari penghasilan sampingan, hingga tugas utama sebagai guru terabaikan dan lalai dalam melaksnakan tugas pokoknya.

Tindakan melarang siswanya bermedia sosial di sekolah, tapi oknum gurunya justru sibuk bermedsos disaat jam belajar di dalam kelas. Mengajar hanya mengugurkan kewajiban,” ujar Maryadi menambahkan.

Sudaryanto, S.Pd. selaku ketua MGMP terpilih, mengatakan, saat ini kita sering mendapat kritikan keprofesionalan guru terlebih guru Bahasa Indonesia. Sebab, keprofesionalan seorang guru bukan hanya kemampuan mengajar, namun yang lebih penting adalah sikap, kebiasaan yang berasal dari latar belakang budaya masing-masing guru, lingkungan mengajar, dan kondisi peserta didik.

Lebih lanjut Sudaryanto menyampaikan, guru profesional bukan hanya pintar mengajar, tapi juga harus cerdas dan mampu menjaga sikap, disiplin, dan ketauladanan.

“Tampilkanlah ketauladanan dihadapan peserta didik. Perlu sadari sepenuhnya, baik guru maupun peserta didik menganggap Bahasa Indonesia mudah dan gampang, sebab sudah dipakai dalam pergaulan sehari-hari,” ujarnya.

Namun kita melupakan bahwa dalam pekerjaan dan pergaulan sehari-hari kita dituntut untuk menulis teks eksplanasi, berdebat, menulis surat resmi. Namun melupakan bahwa dalam bahasa ada penalaran dan aturan penulisan yang termaktub dalam EYD.

Karena kita selalu mengajar bertujuan agar peserta didik sekedar lulus dalam ujian dengan soal pilihan ganda. Namun melupakan hakikat dari berbahasa itu sendiri.  Kita berbahasa perlu memiliki penalaran sehingga ungkapan yang disampaikan berlogika.

Tujuan dibentuknya MGMP ini supaya guru dalam mengajar tidak merasa sendiri, tapi ada tempat belajar dan mencurahkan hati, tentang masalah yang diahadapi tanpa malu. Karena di MGMP tempat berkumpul guru senior dan yunior.

Berdasarkan pengalaman guru senior itulah menjadi solusi dalam menghadapi problema pembelajaran di era modern.

Sementara seorang guru senior yang tidak mau disebutkan, kita selama ini cenderung memberi nasehat terhadap peserta didik yang bermasalah.Walau tidak salah tetapi kurang tepat.

Sebab, tidak kita temukan orang akan berubah karena nasehat. Meski begitu yang lebih dipentingkan, adalah memberikan tauladan pada peserta didik sebagaimana tauladan Rasulullah SAW pada keluarganya dan sahabatnya.***

Reporter : M Rasyid | Editor : MAS 

0 Komentar

IKLAN

Type and hit Enter to search

Close