Oleh : Dr. Adi Iqbal, S.Sos.I.,M.Ud
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) hari ini bukan lagi sekadar cerita masa depan, melainkan realitas yang sudah hadir dalam kehidupan sehari-hari.
AI kini digunakan dalam media sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi digital, bahkan ruang keagamaan dan pelayanan publik.
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada tahun 2026 melaporkan, bahwa lebih dari sepertiga masyarakat di negara-negara OECD telah menggunakan teknologi AI generatif dalam aktivitas sehari-hari, sementara penggunaan AI di perusahaan meningkat dari 8,7% pada tahun 2023 menjadi 20,2% pada tahun 2025.
Di dunia pendidikan, penggunaan AI juga berkembang sangat cepat. Penelitian terbaru mengenai penggunaan AI di sekolah-sekolah Indonesia menunjukkan bahwa para guru mulai memanfaatkan AI untuk menyusun materi pembelajaran, media pengajaran, hingga evaluasi belajar siswa.
Penelitian tersebut menemukan bahwa AI membantu mengurangi beban administrasi dan persiapan mengajar, meskipun masih terdapat tantangan seperti kualitas hasil AI yang terkadang terlalu umum dan kurang kontekstual.
Selain itu, survei di berbagai perguruan tinggi dunia menunjukkan bahwa penggunaan AI di kalangan mahasiswa meningkat drastis dalam dua tahun terakhir, terutama untuk kebutuhan akademik dan pencarian informasi.
Fenomena ini memperlihatkan, bahwa manusia modern sedang mengalami bentuk baru dari krisis eksistensi. Jika dahulu manusia dihargai karena kemampuan berpikir, menulis, dan mencipta, kini kemampuan tersebut mulai dapat direplikasi oleh teknologi.
AI mampu menulis artikel, menghasilkan karya visual, menerjemahkan bahasa, menjawab pertanyaan akademik, bahkan menjadi “teman virtual” bagi sebagian orang. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan filosofis yang semakin relevan, apakah manusia masih menjadi pusat peradaban ketika mesin mampu meniru kecerdasan dan kreativitas manusia?
Kekhawatiran terhadap perubahan tersebut juga tampak dalam dunia kerja global. Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menyebutkan bahwa perkembangan AI dan otomatisasi diperkirakan akan mengubah 22% jenis pekerjaan dunia pada tahun 2030.
Sekitar 170 juta pekerjaan baru diprediksi akan muncul, sementara 92 juta pekerjaan lainnya berpotensi tergantikan oleh teknologi. Bahkan, laporan tersebut menegaskan bahwa 41% perusahaan global berencana mengurangi tenaga kerja untuk pekerjaan tertentu karena otomatisasi AI.
Di sisi lain, kemunculan AI juga menimbulkan kecemasan sosial di kalangan generasi muda. Survei terbaru dari King’s College London pada tahun 2026 menemukan bahwa sepertiga mahasiswa di Inggris percaya, bahwa kehilangan pekerjaan akibat AI dapat memicu keresahan sosial di masa depan.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 77% mahasiswa telah menggunakan AI setiap bulan, sementara sebagian besar merasa kampus belum sepenuhnya mempersiapkan mereka menghadapi dunia kerja berbasis AI.
Kondisi tersebut menunjukkan, bahwa perkembangan AI tidak hanya menghadirkan perubahan teknologi, tetapi juga memunculkan kegelisahan psikologis, sosial, dan identitas di tengah masyarakat modern, khususnya generasi muda.
Ketika manusia mulai merasa terancam oleh kemampuan mesin yang semakin menyerupai kecerdasan manusia, muncul pertanyaan mendasar mengenai makna keberadaan manusia itu sendiri.
Dalam konteks inilah filsafat eksistensi manusia menjadi relevan untuk dipahami sebagai upaya reflektif dalam menjawab krisis makna dan identitas di era kecerdasan buatan.
Filsafat Eksistensi
Apa itu filsafat eksistensi manusia? Secara sederhana, filsafat eksistensi manusia merupakan pemikiran yang tentang makna keberadaan manusia di dunia.
Filsafat ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti, siapa diri kita, untuk apa manusia hidup, apa makna kehidupan, mengapa manusia merasa takut, sedih, bahagia, dan bagaimana manusia menentukan tujuan hidupnya.
Dalam pandangan eksistensialisme, manusia bukan sekadar makhluk biologis yang makan, bekerja, lalu mati, tetapi makhluk yang memiliki kesadaran, kebebasan memilih, dan tanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Tokoh-tokoh eksistensialisme seperti Søren Kierkegaard, Jean-Paul Sartre, dan Martin Heidegger menekankan, bahwa manusia harus menemukan makna hidupnya sendiri di tengah perubahan zaman.
Dalam konteks AI, pemikiran ini menjadi semakin relevan karena manusia mulai mempertanyakan kembali identitas dan keunikannya di tengah dominasi teknologi.
Pada akhirnya, manusia sejatinya bukan hanya makhluk berpikir, tetapi juga makhluk yang memiliki hati nurani, empati, moralitas, spiritualitas, dan pengalaman batin.
AI mungkin mampu mengolah data dan menghasilkan jawaban dengan cepat, tetapi ia tidak memiliki kesadaran moral maupun pengalaman emosional sebagaimana manusia. Karena itu, kebangkitan AI seharusnya tidak membuat manusia merasa tergantikan, melainkan mendorong manusia untuk kembali menemukan jati dirinya yang paling autentik.
Di tengah dunia digital yang serba cepat, filsafat eksistensi mengingatkan, bahwa manusia tidak boleh kehilangan nilai kemanusiaannya. Teknologi dapat membantu kehidupan manusia menjadi lebih efisien, tetapi makna hidup tetap harus ditemukan melalui refleksi, hubungan sosial, cinta, spiritualitas, dan tanggung jawab moral.
Dengan demikian, tantangan terbesar di era AI bukan sekadar bagaimana manusia menciptakan mesin yang cerdas, melainkan bagaimana manusia tetap menjadi manusia di tengah kecanggihan teknologi.
Penulis: Adalah Dosen Fakultas Ushuluddin UIN STS Jambi

0 Komentar