Breaking News

Kedelai Lokal Menjadi Ikon Disaat Perang USA-Isrsel Vs Iran


Oleh : Syukria Darma*

TERLEPAS apakah kedelai disebut pangan wong cilik, tapi setidaknya saat ini telah membuka mata hati kita semua. Karena pangan dari olahan kedelai ini telah menjadi buah bibir masyarakat indonesia. Tidak yg tua maupun yg muda semua suka dan cinta pangan olahan kedele yg kita kenal dengan TAHU, TEMPE, DAN TAUGE.

Dulu ketika zaman orde bar (orba) setiap lokasi lahan  program trasmigrasi selalu ada lahan khusus untuk komoditi pangan minimal 2 ha per KK bagi warga transmigrasi.

Lahan pangan inilah pada era itu menjadi prioritas untuk upaya percepatan  khusus/UPSUS KEDELAI sehingga dimana mana pada areal trasmigrasi pasti ada tanaman kedelai. 

Maka jangan heran kalau saat itu  Sumatera banyak  sentra sentra baru produksi kedelai. Tanpa kecuali di Provinsi Jambi terkenal  dengan proyek kedelai Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) di mulai dari teknologi pra panen sampai kepada teknologi pasca panen terpadu termodern ada  di Alai ilir Kab.Tebo. Presiden kedua RI, Soeharto  sendiri pernah singgah dan bermalam di pusat lokasi program MEE tersebut.

Begitu pedulinya beliau melihat komoditi kedelai ini bagi kebutuhan masyarakat wong cilik di Indonesia. Sehingga diera tetsebut Provinsi Jambi menjadi sentra kedele terbesar dan teknolgi budidaya kedele tercanggih di Indonesia yg sumber dananya di suplay dari masyarakat ekonomi eropa. 

Kini riwayat itu telah sirna seiring dengan otonomi daerah (OTDA) dimana kewenangan wilayah kabupaten kota sudah diserahkan semua aset asetnya ke daerah. Sehingga banyak yang  tidak terawat dan terbengkalai akibat dampak keterbatasan dana dan SDM, semua berakhir dengan sirna tinggal kenangan dengan sisa-sisa Alsintan dan alat mekanisasi pertanian modern serta  teknologi penyimpanan kedelai modern pun tak luput dari keterbengkalaian menjadi besi tua.

Melihat realita kondisi sekarang Indonesia yg ketergantungan sekali terhadap bahan baku kedelai import dari Amerika  sungguh miris sekali dampak efek perang USA/Israel vs Iran biaya pembelian import kedelai ini sangat membebani keuangan negara.

Untuk itu sudah saatnya kedelai lokal Indonesia bangkit kembali  menjadi tuan rumah di negeri sendiri, untuk memenuhi komsumsi bahan baku olahan pangan  tempe bagi sebagian besar kebutuhan pokok masyarakat Indonesia khususnya wong cilik.

Tinggal bagaimana lagi sumber dana APBN bisa menjadi pengungkit kembali kejayaan kedelai lokal Jambi yang terkenal dengan Varietas Kerinci.

Demikian tulisan ini sebagai penyambung lidah masyarakat Jambi untuk kembali menjadikan kemandirian pangan sebagai bagian  dari ketahanan negara. Menuju Indonesia emas 2045.

Penulis : *Adalah Pengurus LAM Jbi bid.SDA/ LH


0 Komentar

IKLAN

Type and hit Enter to search

Close