Breaking News

Sambut Tahun, Warga Perumahan Ratu Daha II Berebut Ikan Lele

Mancing Maniak warga Perumahan Ratu Daha II dalam rangka meriahkan tahun baru.|| foto: Rasyid. 

MediAmpera.COM - Lain lubuk lain ikan, lain padang lain belalang, agaknya inilah ungkapan yang cocok untuk warga RT 14 RW 04 Kelurahan Teratai Perumahan Ratu Daha II, saat memeriahkan momen menyambut Tahun Baru 2026. Warga ramai-ramai berebut ikan Lele lewat kegiatan lomba mancing maniak.

Panitia lomba maniak menyediakan 100 kg, diantaranya ada enam ekor ikan Lele dengan bobot satu kilogram, seluruhnya ada sekitar 600 ikan yang diperebutkan warga.

Kms  Ahmad Zulkipli, Ketua RT 14/04, Perumahan Ratu Daha Kelurahan Teratai dalam sambutannya, menyatakan, bahwa dipilihnya kegiatan mancing dalam rangka momen tahun baru ini, adalah sebagai bentuk pribadi warga dalam hal kesabaran dan ketekunan menghadapi tantangan hidup.

“Ikan Lele dipilih karena berlendir/licin dan sulit ditangkap, karena itu perlu sabar dan tidak mudah menyerah untuk menghadapi hidup di zaman modern,” ujar Ahmad Zulkifli.

Mancing ikan Lele dapat menjadi satu teknik untuk menenangkan pikiran dan mengurangi stres dalam menghadapi hidup di zaman teknologi. Sedang kita sudah berumur begini, agak gagap menghadapi, kegiatan mancing memerlukan taktik dan strategi untuk mencapai tujuan tambah Zulkifli.

Emly seorang pengusaha di Muara Bulian, pemilik toko Minimarket Emly, mewakapkan satu diantara beberapa kolam ikan untuk digunakan lomba mancing bagi warga Perumahan Ratu Daha II. Termasuk ikan yang sudah ada seperti nila dan gabus jika diperoleh pemancing.

Demi keamanan maka pesertanya haruslah warga RT 14 RW 4 Perumahan Ratu Daha II saja.

Sementara itu seorang peserta M. Saihu menyampaikan, mancing iko memerlukan kesabaran dan ketenangan. Perlu tenang karena gerakan yang salah membuiat ikan Lele kabur atau gesit liar.

“Umpan yang digunakan harus tepat dan mengetahui habitat yang tepat mengetahui titik kumpul ikan di kolam,” kata M Saihu.

Seorang ibu yang akrab dipangil, Mak Cik sebagai peserta mancing maniak, mengungkapkan, bahwa mincing ko pak adolah bagaimano kito mencari ikan yang ikhlas.

Tengok tu sebanyak-banyak iko ikan bahkan badekat dengan kawan mancing, tapi yang dapat dio. sambil menunjuk rekannya yang dapat, kareno ikannyo ikhlas untuk dio. Tapi kalu dengan perangkap jalo, tamilar, lukah itu namonyo ikan teperangkap tu pak, kata Mak Cik dengan logat bahasa daerah.

Keseruan mancing warga terlihat dengan tawa dan ceria melihat lawan mendapat tanpa rasa iri dan dengki. Bibir-bibir kocak melontarkan ejekan dan lelucon selalu menyertai lomba. Sehingga suasana ceria dan riang gembira tercipta.

Seorang warga Bapak-bapak datang dan mengejutkan, “Ai pak RT ko dapat beritahu sayo, kalu ado mancing. Sayo nak  jugo ikut” menyesali terlambat dapat informasi. Akhirnyo bapak tersebut disuruh ke panitia untuk daftar sebagai peserta walau terlambat.

Ketua panitia, Holani, menjelaskan bahwa program mancing iko ide pak RT, dalam rangka hiburan warga dan mebentuk karakter kesabaran dan ketenangan dalam menghadapi hidup bertetangga di perumahan iko.

“Kito samo tahulah bahwa warga perumahan iko beragam suku dan daerah dan beda dalam pergaulan. Maka mancing ikolah untuk menyamakan persepsi berpikir dan cara bagaul hidup di perumahan iko,” ujar Holani dalam bahasa daerah.

Bapak lihatlah itu mereka saling ejek, saling kelakar, namun yang diejek tetap ketawa tidak tersinggung. Agaknyo ikolah suasana yang harus kami ciptakan, tambah Haloni.

Ansoruddin Nasution seorang peserta mengungkapkan, bahwa mancing ini sebagai mencari kebijakan dan pengetahuan. Mancing bukan tentang hasil, namun lebih dari itu, tentang proses pengalaman, menghubungkan kita dengan alam dan menghargai keelokan, ungkapmnya.***

Penulis : M Rasyid | Editor: MAS. 

0 Komentar

IKLAN

Type and hit Enter to search

Close