Oleh Muhammad Ridwansyah*
INSIDEN gangguan layanan yang dialami Bank
Jambi perlu disikapi secara objektif dan proporsional. Berdasarkan informasi
yang tersedia, kejadian ini merupakan serangan siber (cyber attack), bukan
akibat kelemahan fundamental kelembagaan ataupun kelalaian tata kelola
internal. Dalam konteks industri keuangan digital saat ini, serangan siber
adalah risiko yang bersifat sistemik dan dapat terjadi pada institusi mana pun.
Pengalaman
sejumlah lembaga keuangan nasional menunjukkan bahwa ancaman ini nyata dan
lintas institusi. Pada 2023, serangan ransomware LockBit sempat melumpuhkan
sistem Bank Syariah Indonesia selama hampir lima hari. Bank Indonesia juga
pernah dilaporkan menjadi target kelompok ransomware internasional. Sementara
itu, Bank DKI melalui pernyataan resmi Dirut Bank DKI Agus Haryoto Widodo
menyebutkan estimasi kebocoran dana "tidak lebih dari Rp100 miliar, yang
berkaitan dengan celah pengendalian akses internal.
Fakta-fakta
tersebut menegaskan bahwa serangan siber merupakan tantangan bersama dalam era
transformasi digital. Bahkan institusi dengan infrastruktur teknologi yang
mapan pun tetap memiliki eksposur risiko.
Masyarakat Tidak Perlu Panik
Dalam kasus
Bank Jambi, respons manajemen tergolong cepat dan terbuka. Konferensi pers
telah dilakukan sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas publik. Langkah
ini penting untuk memastikan bahwa situasi tetap terkendali dan informasi tidak
berkembang secara spekulatif.
Komisaris
Utama Bank Jambi juga menegaskan bahwa bank telah mengimplementasikan ketentuan
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) terkait perlindungan konsumen. Artinya,
terdapat mekanisme regulatif yang menjamin hak dan kepentingan nasabah.
Dari sisi
ketahanan finansial, Bank Jambi memiliki cadangan umum yang memadai, bahkan
lebih dari cukup, untuk mengganti dana nasabah apabila terdapat kerugian. Ini
menunjukkan bahwa stabilitas permodalan dan komitmen perlindungan nasabah tetap
terjaga.
Saat ini,
audit forensik digital sedang dilakukan untuk memastikan penyebab teknis secara
komprehensif, termasuk pola penetrasi dan langkah mitigasi lanjutan. Proses ini
penting agar penanganan dilakukan berbasis data dan rekomendasi profesional.
Menimbang kearifan lokal Jambi, dalam meyelesaikan suatu persoalan yang pelik, selalu berangkat dari kebijaksanaan yang tercermin dalam seloko adat. Ungkapan seperti “kalau air keruh di hilir, tengoklah ke hulu” mengajarkan bahwa setiap masalah harus ditelusuri hingga ke akar penyebabnya, bukan sekadar menyelesaikan gejala di permukaan. Demikian pula seloko “kusut diselesaikan, keruh dijernihkan” mencerminkan pentingnya musyawarah, kejernihan hati, dan sikap bijak dalam mengendalikan situasi. Nilai-nilai ini menuntun masyarakat untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, melainkan mengedepankan ketenangan, saling menghormati, dan mencari mufakat demi menjaga harmoni bersama.
Penguatan Keamanan sebagai Langkah Strategis
Peristiwa ini
menjadi pengingat bahwa transformasi digital harus berjalan seiring dengan
transformasi keamanan digital. Kepercayaan publik adalah fondasi utama industri
perbankan, dan keamanan siber merupakan bagian integral dari upaya menjaganya.
Anggaran
keamanan siber karenanya tidak dapat lagi dipandang sebagai beban biaya (cost
center), melainkan sebagai investasi strategis jangka panjang. Dengan respons
cepat, kepatuhan terhadap regulasi, cadangan keuangan yang kuat, serta komitmen
peningkatan sistem keamanan, masyarakat tidak perlu panik.
Menanggapi
insiden ini, Fuad Nurdiansyah, Ph.D dari Universitas Jambi, dalam suatu diskusi
yang gagas oleh Pusat Studi Perencanaan Bisnis dan Investasi, LPPM Universitas
Jambi, menyampaikan beberapa rekomendasi strategis yang patut dipertimbangkan:
Pertama, adopsi Zero Trust
Architecture (ZTA).
Pendekatan
keamanan berbasis perimeter sudah tidak memadai. ZTA mengasumsikan bahwa setiap
akses harus diverifikasi secara berkelanjutan, baik dari dalam maupun luar
jaringan. Implementasinya meliputi multi-factor authentication, mikrosegmentasi
jaringan, dan prinsip least privilege access, sejalan dengan standar global
seperti NIST SP 800-207.
Kedua, implementasi SIEM berbasis
analitik perilaku.
Sistem
Security Information and Event Management memungkinkan deteksi anomali secara
real-time dengan dukungan algoritma machine learning, sehingga potensi ancaman
dapat diidentifikasi lebih dini.
Ketiga, pembentukan Cyber Resilience
Framework khusus BPD
Sebagai Bank
Pembangunan Daerah yang melayani ASN, UMKM, dan pemerintah daerah, Bank Jambi
memiliki karakteristik risiko yang spesifik. Karena itu, kerangka ketahanan
siber perlu dirancang sesuai dengan kebutuhan dan profil risiko daerah.
Keempat, penguatan human firewall.
Sebagian
besar serangan siber berawal dari rekayasa sosial. Pelatihan keamanan siber
yang berkelanjutan bagi seluruh karyawan—termasuk simulasi phishing dan
sertifikasi keamanan informasi—menjadi investasi penting dalam membangun budaya
keamanan.
Penulis : *Adalah Akademisi FEB
Universitas Jambi.

0 Komentar